Teriakan Tikus

Posted: 15 April 2012 in Ilustrasi, Renungan

Teriakan Tikus
Ayat Renungan:
“ Bertolong-tolonglah menanggung bebanmu! “ Galatia 6 : 2a.

Seekor tikus mengintip di balik celah tembok untuk mengamati sang petani dan istrinya yang sedang membuka sebuah bungkusan. Tikus itu berfikir pasti ada makanan dalam bungkusan tersebut, tetapi tikus itu terkejut bukan main ketika melihat ternyata bungkusan itu adalah sebuah perangkap tikus.
Ia lari ke ladang pertanian itu, dan berteriak memberi peringatan,” Awas ada perangkap tikus di dalam rumah, hati-hati ada perangkap tikus di dalam rumah…!!!.
Sang Ayam dengan tenang berkokok dan sambil tetap menggaruk tanah, lalu mengangkat kepalanya dan berkata,” Ya, maafkan aku, Pak Tikus, aku tahu itu memang masalah besar bagimu, tapi buat aku secara pribadi itu tidak menjadi masalah. Jadi jangan buat aku pening lah..!!
Tikus itupun  berbalik dan pergi kepada sang Kambing,” Ada perangkap tikus di dalam rumah, ada perangkap tikus di dalam rumah..!!
“ Wah aku mnyesal dengar kabar itu,” si kambing menghibur dengan simpati. “ Tidak ada yang bisa aku lakukan kecuali berdoa, yakinlah, kamu senantiasa ada dalam setiap doaku !”
kemudian tikus berbelok ke arah Sang Lembu. “ Oh ? sebuah perangkap tikus, jadi saya dalam bahaya besar ya ?” kata sang lembu itu sambil ketawa.
Dengan wajah tertunduk tikus itupun kembali ke rumah, ia sangat kesal dan sedih, ia terpaksa menghadapi perangkap itu sendirian.
Malam itu terdengar suara gaduh di seluruh rumah, seperti suara perangkap tikus yang mendapat mangsa. Istri petani itu keluar di kegelapan untuk melihat apa yang terperangkap. Istri petani itu tidak begitu jelas apa yang terperagkap, yang ternyta adalah seekor ular berbisa. Ular itu mencoba melepaskan diri  dan tanpa diduga, ular itu mematuk tangan istri petani itu. Petani itu bergegas membawanya ke Rumah sakit, pulang dari rumah sakit istrinya masih demam. Sudah menjadi kebiasaan setiap orang , setiap orang demam harus di beri sup ayam segar. Akhirnya petani itu menyembelih ayamnya dan membuat sup ayam segar.
Demam istri petani tak kunjung sembuh, banyak para tetangga yang berdatangan melawat istri petani itu. Karena banyaknya tamu yang datang, terpaksa petani itu mengambil golok dan menyembelih kambing itu untuk para tamu. Hari ke hari kesehatan istri petani itu semakin parah, hingga akhirnya meninggal. Banyak orang yang melayat, dan lebih banyak di banding waktu masih sakit, dan untuk memberi makan para pelayat, petani itupun akhirnya menyembelih lembunya1.
Aplikasi dari cerita di atas, mungkin kita sering mendengar seseorang yang sedang menghadapi masalah besar, tetapi sering kita berfikir itu tidak ada kaitannya dengan anda. Sering kita menghibur demi kepentingan diri, ketimbang menolong orang itu. Inagtlah bahwa apabila ada “perangkap tikus’ di dalam rumah, seluruh ‘ladang pertanian’ ikut menanggung resikonya. Sikap mementingkan diri sendiri lebih banyak buruknya ketimbang baiknya.  Hughes mengatakan, “ Sikap mengashisi diri sendiri atau mementingkan diri adalah kepekaan yang berubah menjadi egoisme”2. Itulah sebabnya perlu kita selalu memandang kepada Yesus. Ellen G. White dalam buku Perumpamaan-perumpamaan Tuhan Yesus mengatakan,” kita dapat mengalami perubahan-perubahan dari sifat kita yang  buruk dengan selalu memandang kepada Yesus.”3 Mari kita undang Yesus masuk ke hati kita hari ini dan renungkan kata-kata Yesus dalam Matius 25 : 40 jika kita peduli kepada orang lain kita berarti sedang peduli kepada Yesus4.  marilah kita salaing menolong tanpa melihat kepentingan diri sendiri. Tuhan memberkati.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s