Anak Anjing

Posted: 15 April 2012 in Ilustrasi, Renungan

Anak Anjing

Sebuah toko hewan peliharaan (pet store) memasang papan iklan yang
menarik bagi anak-anak kecil, “Dijual Anak Anjing”.
Segera saja seorang anak lelaki datang, masuk ke dalam toko dan
bertanya “Berapa harga anak anjing yang anda jual itu?” Pemilik toko
itu menjawab, “Harganya berkisar antara 30 – 50 Dollar.”
Anak lelaki itu lalu merogoh saku celananya dan mengeluarkan
beberapa keping uang, “Aku hanya mempunyai 2,37 Dollar, bisakah aku
melihat-lihat anak anjing yang anda jual itu?” Pemilik toko itu
tersenyum. Ia lalu bersiul memanggil anjing-anjingnya.

Tak lama dari kandang aning munculah anjingnya yang bernama Lady
yang diikuti oleh lima ekor anak anjing. Mereka berlari-larian di
sepanjang lorong toko. Tetapi, ada satu anak anjing yang tampak
berlari tertinggal paling belakang. Si anak lelaki itu menunjuk pada
anak anjing yang paling terbelakang dan tampak cacat itu.
Tanyanya, “Kenapa dengan anak anjing itu?” Pemilik toko menjelaskan
bahwa ketika dilahirkan anak anjing itu mempunyai kelainan di
pinggulnya, dan akan menderita cacat seumur hidupnya.
Anak lelaki itu tampak gembira dan berkata, “Aku beli anak anjing
yang cacat itu.” Pemilik toko itu menjawab, “Jangan, jangan beli
anak anjing yang cacat itu. Tapi jika kau ingin memilikinya, aku
akan berikan anak anjing itu padamu.”
Anak lelaki itu jadi kecewa. Ia menatap pemilik toko itu dan
berkata, “Aku tak mau kau memberikan anak anjing itu cuma-cuma
padaku. Meski cacat anak anjing itu tetap mempunyai harga yang sama
sebagaimana anak anjing yang lain. Aku akan bayar penuh harga anak
anjing itu. Saat ini aku hanya mempunyai 2,35 Dollar. Tetapi setiap
hari akan akan mengangsur 0,5 Dollar sampai lunas harga anak anjing
itu.”
Tetapi lelaki itu menolak, “Nak, kau jangan membeli anak anjing ini.
Dia tidak bisa lari cepat. Dia tidak bisa melompat dan bermain
sebagaiman anak anjing lainnya.”

Anak lelaki itu terdiam. Lalu ia melepas menarik ujung celana
panjangnya. Dari balik celana itu tampaklah sepasang kaki yang
cacat. Ia menatap pemilik toko itu dan berkata, “Tuan, aku pun tidak
bisa berlari dengan cepat. Aku pun tidak bisa melompat-lompat dan
bermain-main sebagaimana anak lelaki lain. Oleh karena itu aku tahu,
bahwa anak anjing itu membutuhkan seseorang yang mau mengerti
penderitaannya.”

Kini pemilik toko itu menggigit bibirnya. Air mata menetes dari
sudut matanya. Ia tersenyum dan berkata, “Aku akan berdoa setiap
hari agar anak-anak anjing ini mempunyai majikan sebaik engkau.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s