Damai di atas Badai

Posted: 12 April 2012 in Renungan

Dua orang pemuda sedang berada di tengah sebuah pertempuran sengit pada masa Perang Vietnam. Peluru mendesing di atas kepala dan bom-bom meluluhlantakkan bumi. Namun keadaan perang itu tampaknya tidak menggentarkan salah seorang pun dari mereka. Ketika salah seorang dari mereka menanyakan mengapa sobatnya itu bisa menjadi begitu tenang, sobat itu menjawab sambil sedikit menerawang, “Situasi ini mengingatkan saya kepada kebiasaan di rumahku.”
Apakah terkadang Anda merasa seperti menghadapi pertempuran yang mencekam? Apakah hidup Anda hanyalah sebuah pengulangan dari rutinitas: bangun tidur, keluar rumah dengan terburu-buru, menghadapi kemacetan lalulintas, mengejar batas akhir penyelesaian suatu tugas, makan malam dengan tergesa-gesa, meloncat ke tempat tidur, bangun tidur, keluar rumah dengan terburu-buru dan seterusnya? Inikah dunia nyata?
Mungkin itulah persoalannya. Kita memang hidup dalam dunia nyata, bukan pada sebuah dunia fantasi di mana solusi atas masalah-masalah yang di hadapi dapat dengan segera di temukan-hanya dalam setengah jam atau bahkan kurang dari 3 menit.
Renungkan situasi berikut ini: Sebuah perahu kecil yang biasanya berada di tengah-tengah sebuah danau yang lebar. Tiba-tiba, sebuah badai dahsyat menerpa dan mengakibatkan banyak air masuk ke dalam perahu. Karena ketakutan, para penumpang perahu kecil ini pun serta merta berusaha mengeluarkan air dari dalam perahu secepat yang mereka bisa. Semua dari mereka, kecuali satu Orang, justru tertidur dengan kepala-Nya bersandar pada sebuah gulungan tali, karena Dia telah kelelahan.”Apa yang terjadi dengan-MU?” penumpang yang lain menggoncang-goncangka tubuh Sahabat mereka yang sedang tidur itu. Tidak pedulikah Engkau, walaupun kita sampai tenggelam bersama perahu kecil ini?” Lalu Dia terbangun dan memperhatikan wajah-wajah ketakutan para sahabat-Nya dan teriakan-teriakan gentar mereka. Siapakah yang dapat tidur dengan begitu damainya di tengah badai? Tak seorang pun kecuali Tuhan. Sang Tabib Agung kita.
Penawar Paling Ampuh
Apakah Anda percaya atau tidak, obat penawar paling ampuh untuk stress adalah Kedamaian dan Istirahat. Sang Tabib Agung kita mengundang kita, “Marilah kepada-Ku kamu semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang kupasang dan belajarlah padaKu karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. <Matt 11:28,29>.
Ketika kita menjadi egois dan mendahulukan diri kita sendiri, maka tingkat stres kita meningkat, tekanan darah meninggi dan menjadi cepat naik pitam. Menjadi rendah hati berarti kita mendahulukan orang lain. Sikap rendah hati dan kelembutan terhadap sesama ini muncul bersamaan dengan kesadaran bahwa Tuhan menyertai kita dalam badai. Dialah yang memegang kendali. Dialah yang memiliki kata akhir.
Ketakutan adalah sebuah penyebab stress terbesar. Kendati kita hidup dalam sebuah dunia yang berbahaya, namun Tabib Agung kita menawarkan kepada kita sebuah resep yang sangat efektif bagi penyakit yang sama ini. Dia berkata,”Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahteraKu Kuberikan kepadamu dan apa yang Kuberikan tidak seperti apa yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu.”<Yoh 14:27>. Memupuk sebuah keyakinan kepada Allah merupakan sebuah obat penawar yang efektif bagi stres yang ditimbulkan oleh ketakutan.
Salah satu lagi penyebab stres terbesar lainnya adalah rasa bersalah yang menghantui. Sistem yudisial kita cukup peka terhadao gejala-gejala fisik sehingga dapat menerima hasil-hasil deteksi dengan alat pendeteksi kebohongan yang sahih. Siapakah yang belum pernah mengalami tangan yang berkeringat, jantung yang berdegup cemas dan perut serasamual ketika ia sadar bahwa ia telah melakukan sesuatu yang salah? Mengapa harus menjalani hari yang malang di bawah bayang-bayang rasa bersalah, sementara sebuah resep yang ampuh menanti sebagai berikut,”Jika kita mengaku dosa kita, maka ia adalah stia dan adil, sehingga ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan kita.”<1Yoh 1:9>.
Demikianlah ketiga pemicu stress — egoisme, ketakutan dan rasa bersalah dan adalah juga tiga resep untuk menyembuhkannyakerendahan hati, keyakinan (iman)dan pengampunan. Apakah hal ini berarti bahwa persoalan-persoalan kita dapat dipecahkan dalam tiga puluh menit atau kurang? Tentu saja tidak.
Damai yang Sejati
Saya teringat kisah mengenai dua orang pelukis. Masing-masing mereka menciptakan sebuah mahakarya untuk mengilustrasikan konsep perdamaian. Pelukis yang pertama melukis sebuah danau yang tenang dan sunyi yang terletak di antara gunung-gunung yang menjulang tinggi. Sementara Pelukis yang kedua melukis sebuah air terjun yang bergemuruh dengan sebatang pohon yang rapuh. Batang pohon itu melengkung dan melintang tepat diatas deburan air yang berbusa. Pada satu ranting dari satu dahan pohon itu, hampir terjangkau oleh percikan air, bertenggerlah seekor burung dalam sarangnya.
Lukisan Pertama mungkin mewakili rasa damai yang kita semua rindukan. Tetapi hanya Lukisan Kedua-lah yang dapat sungguh-sungguh diberi judul “Damai,” karena damai sangat tepat diilustrasikan dengan mengkontraskan unsur-unsur yang berseberangan: ketenteraman dan energi, kesunyian dan pergolakan.
Damai bukan berarti tiadanya persoalan. Damai adalah sebuah penerimaan akan persoalan dan mengizinkan Allah untuk menjadi bagian dari pemecahan masalah itu.
Kita menjalani hidup yang nyata dalam sebuah dunia yang nyata. Tetapi dalam setiap badai yang melanda, Tabib Agung kita hadir untuk menawarkan solusi-solusi yang nyata bagi stres yang kita alami.”Datanglah kepada-Ku,” Ia meminta, dengan tangan terentang, siap merangkul,”Belajarlah dari-Ku dan Aku akan memberimu ketenangan.”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s