Berdiam adalah Emas

Posted: 11 April 2012 in Khotbah

“Sebab itu orang yang berakal budi akan berdiam diri pada waktu itu, karena waktu itu adalah waktu yang jahat” Amos 5:13.

 

Di masa-masa kejayaannya sebagai petinju, Muhammad Ali dijuluki “Si Mulut Besar” karena ia dikenal sebagai orang yang banyak omong,     ucapan-ucapannya menyengat membuat kesal lawan-lawanya.  Walaupun demikian mereka tidak bisa berbuat banyak, karena ucapan- ucapannya itu dilengkapi dan dibuktikan dengan kehebatannya diatas ring tinju.  Ada orang pernah bertanya kepada Ali, apakah dia tahu ada pepatah  “silent is golden” bahwa diam adalah emas.  Ali menjawab, “benar, diam adalah emas, kalau kamu tidak tau mau bicara apa!” “Silent is golden, if you don’t know what to say.”  Maksudnya, bagi kamu yang tidak punya kemampuan apa-apa, diam adalah sikap yang terbaik.  Tetapi kalau hebat seperti dia, banyak omong adalah hal yang wajar.  Pandangannya ini mengingatkan kita kepada ayat di Amsal 17:28 “Juga orang bodoh akan disangka bijak kalau ia berdiam diri, dan disangka berpengertian kalau ia mengatupkan bibirnya.”  Jadi diam itu adalah senjata efektif untuk menutupi kelemahan diri.  Kalau belum tau banyak, belum punya pengalaman, lebih baik diam, daripada buka mulut dan bikin malu.  Bagaimana kalau kita merasa sudah mampu, sudah pintar dan sudah hebat?  Apakah sikap berdiam masih relevan?

 

Renungan ini mengajak kita untuk maju selangkah lebih jauh dari prinsip diatas, bahwa kita akan tetap berdiam, walaupun sudah tau banyak.  Apa yang dilakukan oleh Daud dimasa mudanya adalah teladan kita dalam hal ini.  Setelah kemenangannya atas Goliat yang gilang gemilang, Daud dibawa oleh Mehankam-Pangab, Abner, untuk menghadap raja Saul.  Saat mereka bertemu, dihadapan para pembesar-pembesarnya Saul bertanya, “Anak siapakah engkau, ya orang muda?” (1 Samuel 17:58a).  Saul tidak kenal Daud?  Saul tidak tau siapa orang tua Daud?

 

Saul kenal Daud.  Di pasal yang sama, di ayat-ayat sebelumnya (31-39), ketika terdengar bahwa Daud berani dan siap menghadapi Goliat, dia dibawa menghadap raja Saul.  Mereka berbincang-bincang, Daud menceritakan pengalaman hidupnya, Saul merestui dan memberkati Daud (ayat 37) bahkan ia memberi pakaian dan perlengkapan perangnya untuk dipakai Daud (ayat 38).  Bukan hanya itu.  Jauh sebelum peristiwa ini, Saul sudah kenal Daud dengan sangat baik.  Saul seringkali mengalami depresi dan stress berat.  Dalam istilah para asisten-nya, ia diganggu oleh “Roh jahat yang dari pada Tuhan” (1 Sam 16:14-15).  Sekarang kita sebut ini depresi dan stress.  Untuk menolongnya, dicarilah pemusik ahli yang bisa menenangkan ketegangan sayraf- syarafnya.

 

Dan yang mereka dapat adalah Daud.  Waktu itu, sebelum perkelahiannya dengan Goliat, Daud sudah memiliki reputasi sebagai seorang yang pandai main kecapi, pahlawan yang gagah perkasa, seorang prajurit, elok perawakannya (1 Sam 16:18).  Demikianlah, setiap kali keseimbangan jiwa Saul goyang, Daud akan bermain musik di baginya.  Dan Saul sangat mengasihi Daud, bahkan mengangkat dia menjadi ajudannya (ayat 21).  Jadi Saul sangat mengenal Daud.

 

Kenapa Saul bertanya seolah-olah dia tidak kenal Daud?  Kita tidak tau dengan pasti.  Mungkin dia cemburu melihat keberhasilan Daud mengalahkan Goliat, mungkin untuk jaga wibawa, pura-pura tidak kenal  orang.  Kita tidak tau latar belakang masalah ini karena Daud tidak mau membesar-besarkannya.  Kalau Daud mau, dia bisa balik menjawab, “Masa raja tidak kenal saya?” Kemudian sebagai balasan, ia beberkan hubungan mereka yang begitu akrab dimasa lalu, menceritakan di hadapan para menterinya tingkah laku aneh Saul waktu dia sedang stress, bagaimana bergantungnya Saul kepadanya.  Tetapi Daud tidak melakukan semua itu.  Orang bodoh dan munafik dijawab, kita jadi ikut bodoh, dan jawaban kita itu akan dijawab dengan jawaban yang lebih bodoh lagi dan lebih keras, dan akhirnya kebodohanpun akan berkembang biak dengan suburnya.  Daud memilih diam.  Ia menjawab dengan singkat dan datar, bahwa ia “anak hamba tuanku, Isai, orang Betlehem itu” (1 Sam 17:58b).

 

Di antara para hadirin yang menyaksikan percapakan Daud dengan Saul ada seorang yang sangat cerdas dan jeli, yaitu Yonatan.  Sebagai putra tertua Saul, Yonatan tau segala sesuatu yang terjadi terhadap ayahnya, penyakit kejiwaan yang dideritanya, bagaimana Daud telah berjasa terhadap ayahnya. Yonatan tau betapa bodohnya pertanyaan Saul, juga betapa besar resiko pertanyaan itu terhadap kehormatan dan kewibawaan Saul jika Daud memilih untuk membuka keadaan yang sebenarnya.  Itulah sebabnya Yonatan begitu kagum atas kedewasaan dan keluhuran jiwa Daud yang memilih untuk berdiam.  Di ayat berikutnya kita baca, “ketika Daud habis berbicara dengan Saul, berpadulah jiwa Yonatan dengan jiwa Daud; dan Yonatan mengasihi dia seperti jiwanya sendiri…” (1 Sam 18:1).

 

Kisah diatas menggambarkan prinsip “diam adalah emas” yang lebih tinggi dan lebih dalam dari prinsip yang diperkenalkan Muhammad Ali. Sikap diamnya seseorang bisa memiliki banyak arti, antara lain: tidak tau mau menjawab atau berbuat apa, bingung, malu, marah, tersinggung, dukungan dan kerja sama (menyetujui suatu usulan), sikap mencari aman, dan banyak lagi. Selalu berdiam diri juga tidak sehat, karena ada saatnya kita harus berani berdiri dan berbicara untuk  menghentikan suatu kesalahan dan bahaya yang sedang mengancam.  Tetapi diamnya Daud disini adalah cerminan sikap tidak mau membalas ketika diri dikecewakan dan dibuat tersinggung.  Dan alkitab terlihat konsisten dalam menggambarkan sikap Daud ini.  Di kemudian hari, ketika ia mendapat kesempatan membunuh Saul, ia tidak mau melakukannya.  Ketika Absalom putranya, melancarkan usaha kudeta, salah satu famili Saul, Simei, mengambil kesempatan untuk mengutuki Daud yang sedang menyingkir dari istana: melempari batu dan menghujaninya dengan debu. Pada saati itupun Daud tidak mau membalas (2 Sam 16:5-14).

 

Ada banyak masalah didalam rumah tangga, didalam  jemaat yang mana bisa dicegah atau segera netralisir kalau saja salah satu pihak, dengan segala kebesaran hati memilih untuk berdiam.  Kasih menutupi segala sesuatu… sabar menanggung segala sesuatu… 1 Korintus 13:7. Didalam skala yang lebih besar, sekarang ini, sebagai hasil warisan budaya Orde Baru, kita berada ditengah-tengah situasi dimana orang bodoh justru banyak bicara, dan ucapan-ucapan mereka adalah ucapan bodoh, cerminan kebodohan mereka.  Sikap Daud memberi inspirasi bahwa seringkali justru orang bijaksana akan memilih berdiam diri, daripada jadi sama bodohnya dengan orang-orang bodoh yang banyak bicara itu.  Resikonya, mereka yang berdiam justru akan dianggap bodoh dan tidak tau apa-apa.  Tapi tidak apa-apa, sabar-sabar saja.  “Sebab itu orang yang berakal budi akan berdiam diri pada waktu itu, karena waktu itu adalah waktu yang jahat” Amos 5:13.  Selamat Sabat, selamat berbakti, mudah-mudah kita akan belajar untuk lebih berdiam sementara mengkuti  kebaktian di Gereja.

“Sebab itu orang yang berakal budi akan berdiam diri pada waktu itu, karena waktu itu adalah waktu yang jahat” Amos 5:13.

 

Di masa-masa kejayaannya sebagai petinju, Muhammad Ali dijuluki “Si Mulut Besar” karena ia dikenal sebagai orang yang banyak omong,     ucapan-ucapannya menyengat membuat kesal lawan-lawanya.  Walaupun demikian mereka tidak bisa berbuat banyak, karena ucapan- ucapannya itu dilengkapi dan dibuktikan dengan kehebatannya diatas ring tinju.  Ada orang pernah bertanya kepada Ali, apakah dia tahu ada pepatah  “silent is golden” bahwa diam adalah emas.  Ali menjawab, “benar, diam adalah emas, kalau kamu tidak tau mau bicara apa!” “Silent is golden, if you don’t know what to say.”  Maksudnya, bagi kamu yang tidak punya kemampuan apa-apa, diam adalah sikap yang terbaik.  Tetapi kalau hebat seperti dia, banyak omong adalah hal yang wajar.  Pandangannya ini mengingatkan kita kepada ayat di Amsal 17:28 “Juga orang bodoh akan disangka bijak kalau ia berdiam diri, dan disangka berpengertian kalau ia mengatupkan bibirnya.”  Jadi diam itu adalah senjata efektif untuk menutupi kelemahan diri.  Kalau belum tau banyak, belum punya pengalaman, lebih baik diam, daripada buka mulut dan bikin malu.  Bagaimana kalau kita merasa sudah mampu, sudah pintar dan sudah hebat?  Apakah sikap berdiam masih relevan?

 

Renungan ini mengajak kita untuk maju selangkah lebih jauh dari prinsip diatas, bahwa kita akan tetap berdiam, walaupun sudah tau banyak.  Apa yang dilakukan oleh Daud dimasa mudanya adalah teladan kita dalam hal ini.  Setelah kemenangannya atas Goliat yang gilang gemilang, Daud dibawa oleh Mehankam-Pangab, Abner, untuk menghadap raja Saul.  Saat mereka bertemu, dihadapan para pembesar-pembesarnya Saul bertanya, “Anak siapakah engkau, ya orang muda?” (1 Samuel 17:58a).  Saul tidak kenal Daud?  Saul tidak tau siapa orang tua Daud?

 

Saul kenal Daud.  Di pasal yang sama, di ayat-ayat sebelumnya (31-39), ketika terdengar bahwa Daud berani dan siap menghadapi Goliat, dia dibawa menghadap raja Saul.  Mereka berbincang-bincang, Daud menceritakan pengalaman hidupnya, Saul merestui dan memberkati Daud (ayat 37) bahkan ia memberi pakaian dan perlengkapan perangnya untuk dipakai Daud (ayat 38).  Bukan hanya itu.  Jauh sebelum peristiwa ini, Saul sudah kenal Daud dengan sangat baik.  Saul seringkali mengalami depresi dan stress berat.  Dalam istilah para asisten-nya, ia diganggu oleh “Roh jahat yang dari pada Tuhan” (1 Sam 16:14-15).  Sekarang kita sebut ini depresi dan stress.  Untuk menolongnya, dicarilah pemusik ahli yang bisa menenangkan ketegangan sayraf- syarafnya.

 

Dan yang mereka dapat adalah Daud.  Waktu itu, sebelum perkelahiannya dengan Goliat, Daud sudah memiliki reputasi sebagai seorang yang pandai main kecapi, pahlawan yang gagah perkasa, seorang prajurit, elok perawakannya (1 Sam 16:18).  Demikianlah, setiap kali keseimbangan jiwa Saul goyang, Daud akan bermain musik di baginya.  Dan Saul sangat mengasihi Daud, bahkan mengangkat dia menjadi ajudannya (ayat 21).  Jadi Saul sangat mengenal Daud.

 

Kenapa Saul bertanya seolah-olah dia tidak kenal Daud?  Kita tidak tau dengan pasti.  Mungkin dia cemburu melihat keberhasilan Daud mengalahkan Goliat, mungkin untuk jaga wibawa, pura-pura tidak kenal  orang.  Kita tidak tau latar belakang masalah ini karena Daud tidak mau membesar-besarkannya.  Kalau Daud mau, dia bisa balik menjawab, “Masa raja tidak kenal saya?” Kemudian sebagai balasan, ia beberkan hubungan mereka yang begitu akrab dimasa lalu, menceritakan di hadapan para menterinya tingkah laku aneh Saul waktu dia sedang stress, bagaimana bergantungnya Saul kepadanya.  Tetapi Daud tidak melakukan semua itu.  Orang bodoh dan munafik dijawab, kita jadi ikut bodoh, dan jawaban kita itu akan dijawab dengan jawaban yang lebih bodoh lagi dan lebih keras, dan akhirnya kebodohanpun akan berkembang biak dengan suburnya.  Daud memilih diam.  Ia menjawab dengan singkat dan datar, bahwa ia “anak hamba tuanku, Isai, orang Betlehem itu” (1 Sam 17:58b).

 

Di antara para hadirin yang menyaksikan percapakan Daud dengan Saul ada seorang yang sangat cerdas dan jeli, yaitu Yonatan.  Sebagai putra tertua Saul, Yonatan tau segala sesuatu yang terjadi terhadap ayahnya, penyakit kejiwaan yang dideritanya, bagaimana Daud telah berjasa terhadap ayahnya. Yonatan tau betapa bodohnya pertanyaan Saul, juga betapa besar resiko pertanyaan itu terhadap kehormatan dan kewibawaan Saul jika Daud memilih untuk membuka keadaan yang sebenarnya.  Itulah sebabnya Yonatan begitu kagum atas kedewasaan dan keluhuran jiwa Daud yang memilih untuk berdiam.  Di ayat berikutnya kita baca, “ketika Daud habis berbicara dengan Saul, berpadulah jiwa Yonatan dengan jiwa Daud; dan Yonatan mengasihi dia seperti jiwanya sendiri…” (1 Sam 18:1).

 

Kisah diatas menggambarkan prinsip “diam adalah emas” yang lebih tinggi dan lebih dalam dari prinsip yang diperkenalkan Muhammad Ali. Sikap diamnya seseorang bisa memiliki banyak arti, antara lain: tidak tau mau menjawab atau berbuat apa, bingung, malu, marah, tersinggung, dukungan dan kerja sama (menyetujui suatu usulan), sikap mencari aman, dan banyak lagi. Selalu berdiam diri juga tidak sehat, karena ada saatnya kita harus berani berdiri dan berbicara untuk  menghentikan suatu kesalahan dan bahaya yang sedang mengancam.  Tetapi diamnya Daud disini adalah cerminan sikap tidak mau membalas ketika diri dikecewakan dan dibuat tersinggung.  Dan alkitab terlihat konsisten dalam menggambarkan sikap Daud ini.  Di kemudian hari, ketika ia mendapat kesempatan membunuh Saul, ia tidak mau melakukannya.  Ketika Absalom putranya, melancarkan usaha kudeta, salah satu famili Saul, Simei, mengambil kesempatan untuk mengutuki Daud yang sedang menyingkir dari istana: melempari batu dan menghujaninya dengan debu. Pada saati itupun Daud tidak mau membalas (2 Sam 16:5-14).

 

Ada banyak masalah didalam rumah tangga, didalam  jemaat yang mana bisa dicegah atau segera netralisir kalau saja salah satu pihak, dengan segala kebesaran hati memilih untuk berdiam.  Kasih menutupi segala sesuatu… sabar menanggung segala sesuatu… 1 Korintus 13:7. Didalam skala yang lebih besar, sekarang ini, sebagai hasil warisan budaya Orde Baru, kita berada ditengah-tengah situasi dimana orang bodoh justru banyak bicara, dan ucapan-ucapan mereka adalah ucapan bodoh, cerminan kebodohan mereka.  Sikap Daud memberi inspirasi bahwa seringkali justru orang bijaksana akan memilih berdiam diri, daripada jadi sama bodohnya dengan orang-orang bodoh yang banyak bicara itu.  Resikonya, mereka yang berdiam justru akan dianggap bodoh dan tidak tau apa-apa.  Tapi tidak apa-apa, sabar-sabar saja.  “Sebab itu orang yang berakal budi akan berdiam diri pada waktu itu, karena waktu itu adalah waktu yang jahat” Amos 5:13.  Selamat Sabat, selamat berbakti, mudah-mudah kita akan belajar untuk lebih berdiam sementara mengkuti  kebaktian di Gereja.

“Sebab itu orang yang berakal budi akan berdiam diri pada waktu itu, karena waktu itu adalah waktu yang jahat” Amos 5:13.

 

Di masa-masa kejayaannya sebagai petinju, Muhammad Ali dijuluki “Si Mulut Besar” karena ia dikenal sebagai orang yang banyak omong,     ucapan-ucapannya menyengat membuat kesal lawan-lawanya.  Walaupun demikian mereka tidak bisa berbuat banyak, karena ucapan- ucapannya itu dilengkapi dan dibuktikan dengan kehebatannya diatas ring tinju.  Ada orang pernah bertanya kepada Ali, apakah dia tahu ada pepatah  “silent is golden” bahwa diam adalah emas.  Ali menjawab, “benar, diam adalah emas, kalau kamu tidak tau mau bicara apa!” “Silent is golden, if you don’t know what to say.”  Maksudnya, bagi kamu yang tidak punya kemampuan apa-apa, diam adalah sikap yang terbaik.  Tetapi kalau hebat seperti dia, banyak omong adalah hal yang wajar.  Pandangannya ini mengingatkan kita kepada ayat di Amsal 17:28 “Juga orang bodoh akan disangka bijak kalau ia berdiam diri, dan disangka berpengertian kalau ia mengatupkan bibirnya.”  Jadi diam itu adalah senjata efektif untuk menutupi kelemahan diri.  Kalau belum tau banyak, belum punya pengalaman, lebih baik diam, daripada buka mulut dan bikin malu.  Bagaimana kalau kita merasa sudah mampu, sudah pintar dan sudah hebat?  Apakah sikap berdiam masih relevan?

 

Renungan ini mengajak kita untuk maju selangkah lebih jauh dari prinsip diatas, bahwa kita akan tetap berdiam, walaupun sudah tau banyak.  Apa yang dilakukan oleh Daud dimasa mudanya adalah teladan kita dalam hal ini.  Setelah kemenangannya atas Goliat yang gilang gemilang, Daud dibawa oleh Mehankam-Pangab, Abner, untuk menghadap raja Saul.  Saat mereka bertemu, dihadapan para pembesar-pembesarnya Saul bertanya, “Anak siapakah engkau, ya orang muda?” (1 Samuel 17:58a).  Saul tidak kenal Daud?  Saul tidak tau siapa orang tua Daud?

 

Saul kenal Daud.  Di pasal yang sama, di ayat-ayat sebelumnya (31-39), ketika terdengar bahwa Daud berani dan siap menghadapi Goliat, dia dibawa menghadap raja Saul.  Mereka berbincang-bincang, Daud menceritakan pengalaman hidupnya, Saul merestui dan memberkati Daud (ayat 37) bahkan ia memberi pakaian dan perlengkapan perangnya untuk dipakai Daud (ayat 38).  Bukan hanya itu.  Jauh sebelum peristiwa ini, Saul sudah kenal Daud dengan sangat baik.  Saul seringkali mengalami depresi dan stress berat.  Dalam istilah para asisten-nya, ia diganggu oleh “Roh jahat yang dari pada Tuhan” (1 Sam 16:14-15).  Sekarang kita sebut ini depresi dan stress.  Untuk menolongnya, dicarilah pemusik ahli yang bisa menenangkan ketegangan sayraf- syarafnya.

 

Dan yang mereka dapat adalah Daud.  Waktu itu, sebelum perkelahiannya dengan Goliat, Daud sudah memiliki reputasi sebagai seorang yang pandai main kecapi, pahlawan yang gagah perkasa, seorang prajurit, elok perawakannya (1 Sam 16:18).  Demikianlah, setiap kali keseimbangan jiwa Saul goyang, Daud akan bermain musik di baginya.  Dan Saul sangat mengasihi Daud, bahkan mengangkat dia menjadi ajudannya (ayat 21).  Jadi Saul sangat mengenal Daud.

 

Kenapa Saul bertanya seolah-olah dia tidak kenal Daud?  Kita tidak tau dengan pasti.  Mungkin dia cemburu melihat keberhasilan Daud mengalahkan Goliat, mungkin untuk jaga wibawa, pura-pura tidak kenal  orang.  Kita tidak tau latar belakang masalah ini karena Daud tidak mau membesar-besarkannya.  Kalau Daud mau, dia bisa balik menjawab, “Masa raja tidak kenal saya?” Kemudian sebagai balasan, ia beberkan hubungan mereka yang begitu akrab dimasa lalu, menceritakan di hadapan para menterinya tingkah laku aneh Saul waktu dia sedang stress, bagaimana bergantungnya Saul kepadanya.  Tetapi Daud tidak melakukan semua itu.  Orang bodoh dan munafik dijawab, kita jadi ikut bodoh, dan jawaban kita itu akan dijawab dengan jawaban yang lebih bodoh lagi dan lebih keras, dan akhirnya kebodohanpun akan berkembang biak dengan suburnya.  Daud memilih diam.  Ia menjawab dengan singkat dan datar, bahwa ia “anak hamba tuanku, Isai, orang Betlehem itu” (1 Sam 17:58b).

 

Di antara para hadirin yang menyaksikan percapakan Daud dengan Saul ada seorang yang sangat cerdas dan jeli, yaitu Yonatan.  Sebagai putra tertua Saul, Yonatan tau segala sesuatu yang terjadi terhadap ayahnya, penyakit kejiwaan yang dideritanya, bagaimana Daud telah berjasa terhadap ayahnya. Yonatan tau betapa bodohnya pertanyaan Saul, juga betapa besar resiko pertanyaan itu terhadap kehormatan dan kewibawaan Saul jika Daud memilih untuk membuka keadaan yang sebenarnya.  Itulah sebabnya Yonatan begitu kagum atas kedewasaan dan keluhuran jiwa Daud yang memilih untuk berdiam.  Di ayat berikutnya kita baca, “ketika Daud habis berbicara dengan Saul, berpadulah jiwa Yonatan dengan jiwa Daud; dan Yonatan mengasihi dia seperti jiwanya sendiri…” (1 Sam 18:1).

 

Kisah diatas menggambarkan prinsip “diam adalah emas” yang lebih tinggi dan lebih dalam dari prinsip yang diperkenalkan Muhammad Ali. Sikap diamnya seseorang bisa memiliki banyak arti, antara lain: tidak tau mau menjawab atau berbuat apa, bingung, malu, marah, tersinggung, dukungan dan kerja sama (menyetujui suatu usulan), sikap mencari aman, dan banyak lagi. Selalu berdiam diri juga tidak sehat, karena ada saatnya kita harus berani berdiri dan berbicara untuk  menghentikan suatu kesalahan dan bahaya yang sedang mengancam.  Tetapi diamnya Daud disini adalah cerminan sikap tidak mau membalas ketika diri dikecewakan dan dibuat tersinggung.  Dan alkitab terlihat konsisten dalam menggambarkan sikap Daud ini.  Di kemudian hari, ketika ia mendapat kesempatan membunuh Saul, ia tidak mau melakukannya.  Ketika Absalom putranya, melancarkan usaha kudeta, salah satu famili Saul, Simei, mengambil kesempatan untuk mengutuki Daud yang sedang menyingkir dari istana: melempari batu dan menghujaninya dengan debu. Pada saati itupun Daud tidak mau membalas (2 Sam 16:5-14).

 

Ada banyak masalah didalam rumah tangga, didalam  jemaat yang mana bisa dicegah atau segera netralisir kalau saja salah satu pihak, dengan segala kebesaran hati memilih untuk berdiam.  Kasih menutupi segala sesuatu… sabar menanggung segala sesuatu… 1 Korintus 13:7. Didalam skala yang lebih besar, sekarang ini, sebagai hasil warisan budaya Orde Baru, kita berada ditengah-tengah situasi dimana orang bodoh justru banyak bicara, dan ucapan-ucapan mereka adalah ucapan bodoh, cerminan kebodohan mereka.  Sikap Daud memberi inspirasi bahwa seringkali justru orang bijaksana akan memilih berdiam diri, daripada jadi sama bodohnya dengan orang-orang bodoh yang banyak bicara itu.  Resikonya, mereka yang berdiam justru akan dianggap bodoh dan tidak tau apa-apa.  Tapi tidak apa-apa, sabar-sabar saja.  “Sebab itu orang yang berakal budi akan berdiam diri pada waktu itu, karena waktu itu adalah waktu yang jahat” Amos 5:13.  Selamat Sabat, selamat berbakti, mudah-mudah kita akan belajar untuk lebih berdiam sementara mengkuti  kebaktian di Gereja.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s